Viewers

HARI PANGAN SEDUNIA: Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku

Jumat, Oktober 09, 2015
Artikel Lomba Hari Pangan Sedunia 2015 diselenggarakan PERGIZI PANGAN Indonesia

sumber : google image

Beragam makanan yang dapat selalu kita nikmati di atas meja, mulai dari nasi yang mengepul, tahu-tempe yang hangat, ikan goreng yang bergizi, ayam bumbu rujak, daging rendang, tumis sayur, hingga buah-buahan segar dan gingin, merupakan suatu nikmat dan anugerah yang luar biasa. Namun apakah kita pernah menelisik lebih lanjut, dari manakah aneka makanan tersebut? Bagaimanakah proses dari beras menjadi nasi hangat? 
beras --> nasi
sumber : google image

Mungkin masih teringat dalam benak kita pelajaran di Sekolah dasar (SD), bahwa Petani merupakan orang atau kelompok yang memproduksi bahan makanan, namun lebih luasnya lagi Petani tidak terbatas pada Peetani yang bercocok tanam saja melainkan Petani juga bisa dalam artian Peternak, Nelayan, atau bahkan usaha lain yang pada tujuannya memproduksi bahan makanan. 

sumber : google image

Memang seringkali kita menganggap sebelah mata Petani, suatu usaha yang kita anggap remeh. Tak terlintaskah di pikiran kita apabila di negeri kita ataupun di dunia ini tidak ada Petani? Darimana sayuran, buah-buahan, ayam, ikan, dan daging yang tersaji dengan lezatnya di atas piring yang kita makan? Ya, tanpa Petani negeri kita bahkan dunia akan mengalami suatu kondisi mengerikan, gizi buruk, kelaparan, kekeringan, dan tentunya berakibat pada angka kematian yang tinggi. 

Petani adalah Warga Negara Indonesia perseorangan dan/atau beserta keluarganya yang melakukan usaha tani di bidang tanaman pangan, holtikultura, perkebunan, dan/atau peternakan (UU No. 19 Tahun 2013 Tentang Pemberdayaan dan Perlindungan Petani)
Petani adalah warga negara Indonesia, baik perseorangan maupun beserta keluarganya yang melakukan usaha tani di bidang Pangan (UU No. 18 Tahun 2012 Pasal 1 Tentang Pangan)
 
sumber: google image
Oleh karena itu, negara-negara yang tergabung dalam Food and Agriculture Organization (FAO) mendirikan hari pangan sedunia yang dirayakan setiap tanggal 16 Oktober, kemudia lebih lanjut dicetuskan pada konferensi FAO ke 20 pada bulan November 1976 di Roma. Di balik penggagas Hari Pangan sedunia adalah Delegasi Hongaria Menteri Pertanian dan Pangan, yaitu Dr. Pal Romany. Hal ini di dasari dari kepedulian terhadap masalah kemiskinan dan kelaparan. 

Apabila di berbagai tangal-tanggal tertentu kita memperingati hari bersejarah dengan menghargai dan mengenai para pejuang, maka di tanggal 16 Oktober ini patut diselami bahwa Petani memiliki peranan yang penting dalam suatu bangsa. 

sumber : google image
Tidak hanya para pahlawan yang berjuang mencapai kemerdekaan Republik Indonesia. Namun sejak jaman dulu hingga jaman sekarang yang modern dan erat dengan teknologi, suatu bangsa tetap membutuhkan pangan dan gizi. Dan pejuang pangan dan gizi suatu bangsa adalah Petani, Petani yang mengubah beras menjadi nasi dengan segala jerih payah dan pengetahuannya menanam hingga memanennya. Petani juga yang berjuang mengambil aneka ikan segar di laut untuk keperluan pangan dan gizi bangsa. 

sumber : google image
Kalimat "Petani Hidup dan Mati Bangsaku" mungkin terkesan berlebihan. Namun apabila diresapi, maka ungkapan itu benar adanya. Mari kita telusuri: Petani adalah yang memproduksi bahan makanan untuk dimakan oleh seluruh rakyat sehingga rakyatnya dapat hidup bahkan menjadi manusia generasi bangsa yang cerdas, kreatif, dan inovatif sehingga bangsanya dapat terus berkembang dan "hidup". Akan tetapi apabila Petani tidak ada, maka bahan makanan pun juga berkurang atau bahkan tidak tersedia. Darimana kita mendapatkan makanan kalau tidak dari Petani? Sehingga menyebabkan rakyat kelaparan, gizi buruk itu pasti, dan cepat atau lambat rakyat beserta bangsanya akan ikut "mati".

sumber : google image
Setelah kita tersadar bahwa Petani sebagai pejuang pangan dan gizi bangsa, juga Petani sebagai hidup matinya bangsa, dengan demikian Petani dapat dikatakan sebagai tulang punggung pangan dan gizi bangsa. Petani sebagai poros utama, Petani adalah pelaku utama, ya... Petani tulang punggung dalam memproduksi bahan makanan. Dengan kata lain, Petani-lah yang memenuhi kebutuhan pangan dan gizi seluruh rakyat. 

sumber : google image
Memasuki bulan Oktober 2015, tentunya sesaat lagi kita akan merayakan Hari Pangan Sedunia. Indonesia pun termasuk dalam negara FAO yang juga merayakan Hari Pangan sedunia ke 35 yang kali ini diadakan di Palembang, Sumatera Selatan. Tentunya di acara ini nantinya tidak hanya sebuah perayaan biasa, namun dapat memberikan suatu kebanggaan tentang hasil panen yang berkualitas dan stok pangan yang memadai serta taraf hidup Petani yang layak, dan terus demikian hingga tahun-tahun berikutnya. 
Terlintas sesaat sepertinya tidak ada masalah soal pangan di Indonesia karena Indonesia adalah negara agraris terbesar di dunia dengan Sumber Daya Alama (SDA) yang melimpah, wilayah yang subur dan luas, area perairan yang luas, serta didukung dengan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai Petani. Sehingga membuka peluang bagi Indonesia untuk Petani dan segala urusan pangan terpenuhi dengan baik karena Indonesia 'ahlinya'. Selain itu juga diperkuat adanya penemuan peninggalan alat-alat pertanian sejak jaman dahulu. 

Pangan merupakan segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan Pangan, bahan baku Pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman (UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan)
sumber : google image

Namun di tahun 2015 ini, sepertinya tantangan semakin banyak dan berat. Penduduk Indonesia yang terus menggeliat dengan 200 juta jiwa lebih dan terus bertambah 1,7% tiap tahunnya, membuat pasokan produksi pangan harus dapat terjaga. Lajunya pertambahan populasi Indonesia dan dunia, membuat banyak pihak fokus pada tingkat kecukupan stok pangan. Terlebih isu ini menjadi sangat serius dan darurat dengan adanya anomali cuaca yang tidak menentu, rentannya terhadap bencana alam, adanya efek globalisasi dan gejolak ekonomi, serta kejadian lainnya seperti darurat kabut asap. Pemenuhan kebutuhan pangan harus terpenuhi dengan baik sehingga kelaparan dan gizi buruk tidak menjadi momok bagi negeri kita. Kondisi terpenuhinya pangan bagi suatu negara secara merata ke masing-masing individu adalah dengan tercapainya kondisi Ketahanan Pangan.
Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau (UU No. 7 Tahun 1996 Pasal 1 ayat 17)

swasembada pangan 2017
sumber : google image
Langkah Pemerintah dalam mencapai kondisi Ketahanan Pangan adalah terus menggenjot peningkatan produksi pangan melalui program swasembada pangan dengan mengutamakan 5 komoditas unggulan seperti padi, jagung, kedelai, gula, dan daging. Program ini membuat keberadaan Petani sebagai tonggak penting dalam produksi pangan sebagai poros pembangunan ketahanan pangan. 

sumber : google image

Sebenarnya Indonesia yang merupakan negara yang eksotis karena kekayaan alamnya yang begitu melimpah didukung budaya masyarakatnya yang menghormati alam sehingga Indonesia menempatkan dirinya sebagai negara agraris dan maritim, dimana tulang punggung kehidupan masyarakatnya berprofesi sebagai Petani. Hal ini sebenarnya membuat profesi Petani begitu menjanjikan dan populer. 
Namun sayangnya profesi Petani walaupun mencapai 60%, mereka mayoritas sebagai Petani Kecil yang lahannya terbatas, modal terbatas, pendidikan rendah, peralatan seadanya, dimana mereka juga sangar ringkih ketahanannya apabila diserbu bencana alam ataupun globalisasi. Tak mengehrankan bahwa profesi Petani tidak diminati oleh anak muda generasi penerus bangsa karena dianggap sebelah mata.
Dengan demikian, Petani harus dirangkul dan diprioritaskan. Sektor perindustrian dan pertambangan yang selama ini mendapat prioritas Pemerintah, sudah waktunya digeser untuk memprioritaskan sektor pertanian. 
Penyediaan bibit unggul yang berkualitas akan mendukung kinerja Petani untuk menghasilkan hasil produksi pangan yang berkualitas pula. Kemudian diperlukan program penyuluhan, pendidikan, dan pendampingan selama proses awal hingga akhir panen, dimana di dalamnya dilibatkan penggunakan alat yang didukung oleh teknologi modern. Cara sederhana dan kuno bukan saja tidak dapat dipakai, namun perlu disesuaikan dengan pemanfaatan teknologi sehingga menghasilkan hasil produksi pangan yang cepat, tepat sesuai target, dan tentunya maksimal. Lahan yang memadai juga perlu mendapatkan perhatian, dengan jarak sebar benih yang sesuai maka akan didapatkan hasil yang maksimal pula. 
Beragam program penyuluhan, pendidikan, penyediaan bibit unggul, dan penyediaan beragam alat serta pemanfaatan teknologi, akan membuat Petani merasa 'bangkit' kembali sehingga target swasembada pangan tahun 2017 serta Ketahanan Pangan dapat terwujud. 
Harapan saya dan tentunya seluruh rakyat Indonesia, Indonesia akan bangkit kembali sektor pertaniannya, dalam hal ini meliputi pertanian, peternakan, dan perikanan, akan menjadi sektor terkuat bangsa Indonesia dalam mencetak unggul generasi penerus bangsa. Amin. 

0 komentar: