Viewers

Menyusuri Pulau Pasir Hingga Ke Pelaminan

Rabu, Mei 13, 2015
Liburan sekolah telah tiba. Aku dan sahabatku Wahyu sudah merencanakan berlibur menyusuri Belitung. Sebuha pulau yang begitu indah yang patut kita jelajah. Kepergian kita kali ini hanya berdua, karena Esti, Lia, dan Beni tiba-tiba saja membatalkannya.

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Wahyu ke rumahku, menjemputku, berpamitan dengan orang tuaku, dan pergi bersama ke Belitung. Kami sengaja memanfaatkan pesawat untuk menghemat waktu, dan kami resmi meninggalkan kota kami tercinta Surabaya seiring take off nya pesawat.

---

Esok harinya, pagi menjelang siang, dengan sinar matahari yang mulai terik, aku bersama seorang sahabatku Wahyu bergegas menuju Pulau Pasir.



sumber : google image


Berjalan dengan sandal jepit, nyaris kaki kami tak terlihat karena tertutup pasir putih yang halus khas Belitung.

“Ayo Nia, aku sudah tak sabar menikmati Pulau Pasir ini” seru Wahyu di depanku menyemangatiku karena aku memang berjalan sedikit mengeong karena lecet di kakiku.
Wahyu yang tak sabar menungguku kembali berteriak. “Nia, mengapa kau lambat sekali? Lihat selagi air surut nih, lihatlah hamparan pasir membentuk pulau” Namun aku masih berjalan tertatih-tatih sambil membawa tas punggung yang lumayan berat menurut kadarku.
Wahyu berjalan mundur menghampiriku, dia segera melepaskan tas punggung yang kubawa “ini nih tempurung kura-kuranya, sini aku bawakan” kata Wahyu sambil melepaskannya dari pundakku. Wahyu membawa tas punggung miliknya di punggung belakang dan tas punggungku di bagian depan dadanya.

Aku hanya meringis kesakitan tanpa berkata apa-apa dan melanjutkan langkah kecilku. Wahyu kembali mendahuluiku, hingga kami berjarak cukup jauh. Mungkin Wahyu menyadari bahwa aku masih tertinggal jauh darinya, Wahyu menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang, dan berlari kecil menghampiriku. Kini Wahyu tepat berdiri di hadapanku. Merengkuh tangan kananku dan digandengnya. “Sini aku tarik kamu Nia” katanya. Aku kembali hanya terdiam saja.

Akhirnya kami berada di tempat tujuan kami. Sebuah hamparan pasir halus berkilap karena pantulan sinar matahari, kami dibuatnya takjub dengan pemandangan sekitarnya. Pulau-pulau kecil begitu berdekatan di mata kami, tak layak tempat kami berpijak saat ini disebut hoping island.

Kami saling berpandangan satu sama lain. Iya, aku bertabrakan mata dengan sosok sahabatku dari kecil, Wahyu. Tapi, mengapa hatiku bergetar ketika mataku menembus matanya? Wahyu menggeser badannya hingga berdiri tepat di hadapanku. Jarak kami begitu dekat. Wahyu mengambil kedua tanganku dan menciumnya. Aku tak menolak, aku hanya diam mematung. “Nia... aku adalah sahabatmu, kita tumbuh bersama, kita ke sekolah bersama, kita membuat kue gosong bersama, hingga kita memanfaatkan liburan ke Belitung bersama, hanya kita berdua Nia. Aku...” Tiba-tiba aku berteriak memotong ucapan Wahyu, “Lihat, benarkah itu bintang laut?” Aku menggandeng Wahyu, melupakan lecet di kakiku, menanggalkan sandal jepitku, dan berlari kecil bersama Wahyu menghampiri bintang laut.


sumber : google image


“Ah kamu katrok, seperti tidak pernah lihat bintang laut saja” ucap Wahyu mengejekku. “Biarin... memang aku tidak pernah melihatnya secara nyata. Lagipula ini bintang laut merah. Bukannya kamu juga belum melihatnya? Jangan sok deh... aku tahu kamu, kan kita selalu bersama” ledekku balik.

Kami ber-selfie ria bersama, foto-foto mengabadikan keheranan sekaligus kesenangan kami berjumpa dengan bintang laut. Kami juga menceburkan diri, berbasah-basah ria. Sungguh menyenangkan.

Sambil duduk di air, Wahyu kembali melanjutkan perkataannya yang sempat kupotong tadi, “Nia, kamu sahabatku, susah senang, tawa menangis, kita lalui bersama. Aku...” Kembali ucapan Wahyu terpotong. “Eh Wahyu bagaimana nanti kita kembali ke hotel? Baju kita basah kuyup, tas punggung kita juga nyebur bersama. Hadeh...” ucapku sambil menghela napas panjang. “Ya kamu sih keburu nyebur saja tanpa pikir panjang. Sebentar aku kan smart, aku menaruh bajuku di kantung plastik. Semoga tidak basah” Kata Wahyu menimpaliku.

Wahyu menyerahkan celana pendek lengkap dengan kaosnya kepadaku. “Nih untukmu saja Nia. Kamu cewek lebih rapuh” ujar Wahyu kepadaku sambil menyodorkan baju yang berhasil terselamatkan dari tas punggungnya. “Ah masak aku memakai baju cowok, lucu kali. Udah pakai saja, aku tak apa” kataku sambil mengembalikan bajunya ke Wahyu.
“Tidak Nia, kamu harus mau memakainya. Nanti kamu sakit, perjalanan kita kembali ke hotel masih lama. Aku bingung nanti kalau kamu sakit”

“Tidaklah, aku kan cewek kuat Wahyu. Mengapa sih kamu lebih cerewet dari mamaku? “
“Nia, satu hal yang harus kamu tahu. Aku tidak ingin kamu ada apa-apa. Kamu itu sahabatku Nia. Kamu sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Wajar kan aku begitu cerewet dan melindungimu? “

Entah mengapa aku masih menunggu ucapan “I LOVE YOU” keluar dari bibir Wahyu. Tapi mengapa Wahyu tidak mengutarakannya? Atau belum? Atau aku saja yang ke GR an?
Wahyu mendekatiku, kembali menyodorkan bajunya kepadaku dan kembali memaksaku untuk berganti pakaian. “Wahyu! Sudahlah kamu saja yang ganti. Percuma juga di sini tidak ada toilet untuk berganti” seruku jengkel. Setelahnya aku berkata dalam hatiku, “apa-apaan sih kamu Nia. Betapa begonya dirimu, lihatlah! Wahyu begitu perhatian padamu tapi kamu terus menolaknya. Ah! Tidak tidak! Wahyu itu hanya sahabat, dia tidak mencintai aku. Wahyu hanya menganggapku sebagai adik, yang masih kecil, yang perlu diperhatikan” Hatiku bergejolak.

Ekspresi terkejut Wahyu terpancar di mukanya mendengar teriakanku. “Ok Nia, maaf aku memaksamu. Tak apa kalau kamu tidak mau berganti pakaian. Maaf ya.. maaf” ujar Wahyu sembari berlutut di hadapanku. Kulihat mukanya memerah dan air matanya berlinang di sudut matanya. Aku merasa sangat bersalah. Aku merasa telah melukainya.

Aku ikut berlutut di bwah dan memeluknya. Wahyu spontan memelukku erat, berbisik di telinga kiriku, “Aku sayang kamu Nia, aku begitu amat sangat mencintaimu melebihi diriku. I Love You”. Yes! Itulah perkataan yang kutunggu-tunggu selama ini, yang keluar langsung dari bibir Wahyu, tapi aku tidak senyum kala itu. Aku justru terharu dan menangis. Ya... aku menangis sesenggukan tanpa sebab.

Wahyu melepaskan pelukannya, mengusap air mataku dan mencium keningku.

---

Selama 8 tahun kami jalani masa pacaran. Begitu banyak hal aku belajar dari diri Wahyu. Walaupun aku sering ngomel, walaupun aku sering mengeluh, walaupun aku terkesan manja, namun Wahyu tetap menjadi sosok sahabat, kaka, pacarku yang terbaik. Wahyu begitu tulus dan sabar mencintaiku. Inilah arti sahabat sejati bagiku, sahabat yang begitu pengertian, begitu sabar dan tulus menerima aku apa adanya, tanpa mengeluh. 


sumber : google image

Kini 5 tahun sudah usia pernikahan kami, namun masih belum dikaruniai buah hati. Wahyu tetap seperti dahulu, rasa sayang dan cinta kepadaku tak berkurang sedikitpun. Aku begitu bangga dan beruntung dapat hidup bersama Wahyu. Susah senang kami lalui dengan sabar dan penuh semangat. Dan, tepat di hari ulang tahun kami yang sama-sama jatuh di bulan Maret, kami berdoa bersama, saling menggenggamkan tangan bersama, semoga Tuhan membukakan jalan yang mudah bagi kami untuk mendapatkan buah hati sebagai pelengkap kebahagiaan kami. Amin...


Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dannulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis .



0 komentar: