Perempuan Berkontibusi

Jumat, Maret 07, 2014
Tema : Sosok perempuan Indonesia masa kini

Penciptaan Tuhan yang begitu mulia akan manusia, menimbulkan dua sosok, yaitu laki-laki dan perempuan. Dua sosok ini telah ditakdirkan untuk saling melengkapi dan saling mendukung. Namun kerap kali sosok perempuan dianggap sebelah mata, diremehkan, dan dianggap lemah karena memang fisiknya yang lebih lemah dari laki-laki sehingga perempuan hanya diprioritaskan untuk urusan rumah dan dapur saja sedangkan laki-laki lebih diianggap berkuasa dan pencari nafkah.

Kehidupan yang begitu dinamis, membuat perempuan harus berbenah. Perempuan harus bangkit, menjadi sosok yang kuat dalam artian tidak terbatas pada kuat fisik namun kuat mental, berkreatif, dan mampu menghasilkan sesuatu, di samping tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan. Begitu banyak contoh yang dapat kita ambil mengenai sosok wanita Indonesia saat ini, saya ambil salah satunya yaitu Martha Tilaar, seorang pengusaha wanita Indonesia dalam bidang kosmetik dan jamu Sariayu. Kecintaannya akan Indonesia mampu mengispirasinya untuk menciptakan produk kosmetik dan jamu asli Indonesia dan menggunakan bahan alami dari Indonesia. Sungguh menginspirasi kita semua, tak heran pad atahun 2008 yang lalu, Martha Tilaar dianugerahi  Most Admired enterprise di ASEAN dalam bidang kategori inovasi dari Asean Bussiness Forum. Ide kreatif dan inovasinya terus mencuat hingga kini. Sosok perempuan yang kalem tetap ada dalam dirinya, namun sifat kepemimpinan yang tegas dan ide spektakulernya mampu membawa Indonesia ke mata internasional.

Di era sekarang ini, tidaklah asing apabila suami dan istri sama-sama bekerja, tuntutan hidup ini terkadang menjadi cambukan bagi perempuan untuk memaksimalkan potensi dalam dirinya untuk menopang kehidupan. Di samping itu pula, untuk meramaikan perekonomian Indonesia, diperlukan sebanyak 4,8 persen pengusaha dari jumlah penduduk Indonesia, dan di dalamnya termasuk pula peran serta perempuan. Saat ini baru sekitar 0,1 persen saja dari penduduk perempuan yang menjadi pengusaha. Jujur perasaan takur, minder, dan tidak siap modal seringkali menjadi alasan perempuan untuk berwirausaha. Hal itu juga saya alami ketika telah menyelesaikan pendidikan master saya di bidang manajemen stratejik. Beragam rencana muncul, mulai dari kerja sebagai karyawan di bank ataupun perusahaan ternama dengan jenjang karir yang jelas, bekerja sebagai dosen, ataupun berwirausaha. Akhirnya keputusan yang  kuambil adalah menebar berbagai lamaran pekerjaan ke banyak perusahaan yang kukagumi, berharap aku dapat menjadi bagian di dalamnya dan kebanggaan akan kusandang. Aku diterima bekerja di salah satu perusahaan, rasa senang dan bahagia itu muncul, berpakaian kantoran rapi dan semangat untuk menorehkan prestasi pada perusahaan itu. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, aku mulai jenuh, aku mulai tidak bersemangat lagi, aku merasa ini di luar ekspektasiku, banyak ganjalan yang harus kutempuh agar “terlihat” oleh atasan. Aku juga menyadari, bahwa menjadi pengusaha adalah cita-cita kecilku yang abadi hingga sekarang. Benar, aku ingin menjadi pengusaha perempuan hebat.

Namun untuk memulai menjadi pengusaha, banyak rintangan dari dalam diriku sendiri. Apa dikata teman kalau aku kini hanya berprofesi sebagai pedangang kecil yang bisa saja dijalani oleh siapa saja dan tidak perlu harus sampai ke jenjang pendidikan master. Aku juga minder, tidak percaya diri, apakah aku sanggup. Semuanya itu, akhirnya berhasil kutepis. Tepat 3 tahun yang lalu, aku mendirikan sebuah toko sepatu. Modal kudapatkan dari tabunganku dan pinjaman keluarga dengan memberikan argumentasiku bahwa aku pasti bisa, dan usaha ini bukan usaha yang sebulan atau setahun tutup. Sebuah toko mungil buka di deretan toko besar dan telah mempunyai “nama”, di sebuah pusat perbelanjaan di kotaku. Memang benar dugaanku, orang banyak menyayangkan keputusanku ini. “Buat apa kamu sekolah hingga S-2 kalau saja hanya buka toko ini?” Aku sempat berkecil hati, tapi akhirnya aku bangkit berdiri, dan inilah aku, aku telah niat buka toko, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mengembangkan bisnis ini, dan tidak ada yang sia-sia, berbekal pengalaman pendidikanku serta kolaborasi dengan pengalaman bekerjaku, aku mantap menjalankan bisnis ini.

Tiga tahun berlalu, aku masih bertahan. Aku lebih bangga menjadi pengusaha, karena aku bebas berekspresi, bertanggung jawab penuh atas bisnisku, melatih kepempimpinanku dan juga kesabaran dalam menghadapi karakteristik pelanggan. Suka maupun duka telah kurasan dan akan kujadikan sebagai pengalaman untuk terus berkomitmen dalam menjalankan bisnis ini. Sosok Martha Tilaar selalu melekat dalam diriku, dan aku ingin menggapainya seperti beliau. Inilah aku, perempuan Indonesia masa kini yang terus berupaya untuk menjadi hebat.













Photobucket

0 komentar: