Viewers

Pancasila Untuk Filter

Senin, Maret 18, 2013
Penguatan Identitas Bangsa dalam Komunitas Global dan Multikultural


Masih ingatkah kita akan pelajaran Pancasila saat kita duduk di bangku sekolah dulu? Masih ingatkah kita seminggu sekali saat upacara bendera, kita selalu melafalkan Pancasila bersama-sama di lapangan? Masi ingatkah kita sekarang akan bunyi Pancasila?

Ya, waktu kita sekolah, guru kita dan sekolah kita selalu mengajarkan kepada kita untuk sellau mengingat bunyi Pancasila yang kemudian menanamkannya ke dalam sanubari sebagai pedoman atau pegangan untuk kita berperilaku sebagai warga Indonesia.

Pancasila
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Itulah bunyi Pancasila, namun apakah sampai sekarang kita tetap memaknai Pancasila itu? Itulah sebuah pertanyaan besar yang wajib kita jawab di tengah arus globalisasi yang sedang terjadi dan memasuki era teknologi informasi yang makin pesat berkembang dengan segala media sosial yang kian ramai. Hal inilah yang menyebabkan segala hal yang berbau asing mudah masuk ke negeri ini. Mulai dari gaya hidup, kecencerungan, budaya, bahasa, hingga makanan mempengaruhi kehidupan kita. 

Lalu bagaimanakah sikap kita? Bagaimanakah cara kita untuk menghadapi ini? apa yang kita lakukan sebagai bangsa yang mempunyai identitas unik dan berlandaskan Pancasila? Bagaimanakah posisi kita di tengah globalisasi yang sedang terjadi ini? Apakah Pancasila mampu menguatkan identitas bangsa kita sebagai bangsa yang besar?

Tidak gaul kalau tidak eksis, kalimat semacam itu sering kita dengar di kerumunan anak muda. Memang teknologi membuat kita selalu mengikutinya seiring berkembangnya jaman. Pekerjaan dipermudah dengan teknologi, namun sebaliknya di sisi negatifnya, teknologi menjadi sumber "virus" yang dengan mudah masuk ke bangsa kita. 

Terlebih lagi kehadiran media sosial, yang semakin mempermudah kita "bertemu" dengan orang warga asing, melihat beragam budaya asing termasuk makanan, budaya, bahasa, dan gaya hidup. Dan sedikit banyak, kita sangat berpotensi untuk terpengaruh. Lihat saja demam korea yang sedang melanda negeri ini. Banyak penyanyi Indonesia berlomba-lomba membentuk sebuah grup menyanyi dengan segala simbol Korea dilekatkan, mulai dari lagunya, musiknya, gayanya, hingga bajunya. Lihat saja kebiasaan anak muda yang suka makan steak dan spaghetti dibandingkan makan soto ayam, yang kata mereka merasa lebih berkelas makan ala barat dibandingkan makan soto ayam. 

Sah-sah saja orang berpikiran maju, meniru bangsa yang lebih maju. Namun sebagai bangsa yang ber-Pancasila, hendaknya kita mempertahankan identitas bangsa kita. Menyadari bahwa kita semua adalah warga Indonesia yang mengakui adanya Tuhan, dan saling tenggang rasa sesama manusia, memelihara persatuan bangsa walaupun terdiri dari aneka suku bangsa, dimana dipimpin oleh satu kepala negara yang sistem permusyawaratan, dengan tujuan keadilan bagi seluruh rakyatnya.

Dengan berpedoman pada Pancasila, akan membukakan "mata" kita dan dapat menyaring segala pengaruh asing yang masuk. Dapat memilah pengaruh baik yang berguna untuk kemajuan bangsa, dan dapat memilah pengaruh buruk yang dapat merusak bangsa. Menepis segala ego dan rasa berbangga diri terhadap asing melainkan bangga terhadap warisan budaya Indonesia itu sendiri. Sebagai contohnya, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dan tidak menggunakan bahasa "allay" yang cenderung merusak bahasa Indonesia. Meniru cara berpikir yang maju, kreatif, dan pantang menyerah dari asing untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya menjadi warga Indonesia yang unggul yang cinta akan tanah airnya dan membawa bangsanya pada kemajuan. 


Photobucket






0 komentar: