Viewers

Aku Juga Bisa Menjadi Pendidik

Senin, Juli 30, 2012

Tema : Menjadi Pendidik



Apa sih cita-citamu kelak? Ya pertanyaan itu kerap dihadapkan kepadaku ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar, mulai dari orang tua, guru, tante dan om teman orang tua, juga teman-temanku. “Aku ingin jadi dokter” jawabku seenaknya tanpa berpikir. Kemudian aku diam sejenak kemudian meralat jawabanku, “Ngga jadi deh, aku jadi guru saja, seperti Bu Diyah”. Bu Diyah merupakan guruku sewaktu aku SD, beliau sangat ramah, baik, sabar, namun juga tegas. Beliau sangat enak dalam menjelaskan pelajaran sehingga aku mudah menyerapnya namun dapat juga marah ketika aku tidak mengerjakan tugas rumah. Di balik itu semuanya, aku sangat menyukai Bu Diyah, bisa dibilang, beliau adalah idolaku.

Dari kecil, aku sudah terinspirasi akan sosok guru, yang begitu mulia dan sabar dalam mentrasfer ilmu pendidikan ke anak didiknya. Akan tetapi, seiring bertambahnya usiaku, aku yang duduk di bangku kuliah, mempunyai cita-cita baru yaitu menjadi pebisnis. Aku ingin menjadi orang yang sukses, aku memang seorang wanita, tapi aku ingin semua orang dapat memandangku.

Suatu nasehat yang terlontar dari bibir ibuku, ketika di suatu minggu sore, kami berkumpul makan bersama dalam acara ulang tahunku, ibuku bilang bahwa aku sah-sah saja menjadi apa yang kuinginkan asalkan semuanya itu dilakukan dengan baik. Tidak masalah aku menjadi dokter, guru, ataupun pebisnis. Yang menjadi poin pentingnya, adalah sikapku dalam bermasyarakat. Aku disarankan mengambil sikap seorang guru, yang menyebarkan ilmu dan pengalaman yang aku miliki kepada semua orang.

Kini aku sudah benar-benar dewasa. Aku sudah menikah dan umurku 27 tahun. Benar, kini aku seorang pebisnis, wiraswasta. Aku mempunyai 3 orang pegawai yang turut membantuku dalam menjalankan bisnisku. Aku sebagai pemilik usaha yang juga bertanggung jawab mendidik pegawai untuk dapat maju sehingga berguna bagi mereka sendiri dan juga bagi bisnisku.

Pegawai yang kumiliki memiliki pendidikan hanya sampai tingkat SD dan SMP. Saatnya aku menjalankan nasehat ibuku. Aku menjadi pendidik ke mereka. Aku mulai mengajari cara berhitung, menggunakan kalkulator, hingga cara berbicara dengan pelanggan. Aku harus dapat menjadi sosok seorang guru bagi mereka, dengan mendidik secara sabar dan telaten.

Pegawaiku telah bekerja padaku rata-rata setahun, kini mereka dapat fasih menggunakan kalkulator dan mengerti cara berhitung. Kulihat dari raut mukanya begitu bangga, bahwa kini mereka dapat sesuatu hal yang baru. Akupun demikian, juga turut senang mereka bisa, sehingga akupun juga terbantu.

Salah seorang dari pegawaiku bercerita bahwa kemampuannya berhitung dan menggunakan kalkulator sangat berharga. Dia dapat mengajarkan hal yang sama kepada adiknya yang masih mengenyam pendidikan sekolah. Dia bangga karena sebagai kakak dapat mengajari adiknya dan itu didapatkan dari aku, tempatnya bekerja. Salah seorangnya lagi bercerita bahwa kini ia tidak lagi dapat dibohongi ketika membeli sesuatu. Dia dapat menghitung jumlah kembalian uang, bahkan secara rinci menggunakan kalkulator hingga ke angka desimal maupun potongan diskon berupa persentase.

Aku terwujud menjadi pebisnis, namun aku juga terwujud menjadi pendidik. Harapanku mereka yang kuajari dapat menjadi maju dan mewariskan ilmunya kepada keluarga serta temannya. Aku juga mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dari kehidupan mereka yang berbeda latar belakang denganku.

Menjadi pendidik tidaklah mutlak menjadi seorang guru dalam artian sesungguhnya. Menjadi pendidik dapat saja terjadi dilingkup manapun, yang terpenting adalah bagaimana kita mau menjadi andil dalam berbagi pengetahuan dan pengalaman. 






Photobucket

0 komentar: