4 Pilar Dalam Keharmonisan Hidup Wanita

Senin, Juli 30, 2012
Tema : Women In Digital Era.

Jaman sudah berubah! Ya, pernyataan itu kerap kali terdengar di telinga kita. Utamanya kaum wanita, lihat saja jaman Kartini dimana wanita sangat dibatasi gerakannya, dibandingkan dengan jaman sekarang yang memasuki era digital, wanita pun juga dapat berperan aktif layaknya pria. 

Dalam kesempatan ini, aku akan menulis bagaimana peranan wanita dalam era digital, bagaimana seorang wanita bersikap dan menempatkan dirinya dengan baik sehingga keharmonisan hidup dapat tercapai. Aku dapat menuliskannya karena aku pun seorang wanita yang masuk dalam era digital ini.

Work
Manusia ditakdirkan untuk bekerja dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Tak pelak dalam situasi yang makin banyak kebutuhan hidup, gaya hidup/tren, serta tingginya inflasi, membuat wanita kini tak mau berdiam diri. Wanita ikut terjun dalam pekerjaan dan kariernya. Era digital sangat membantu dalam pekerjaanku. 
Aku mempunyai bisnis yang telah kurintis sejak 2 tahun yang lalu. Boomingnya berbagai fasilitas serta gadget modern ikut membantuku dalam menjalankan bisnisku, dimulainya dari smartphone yang kumiliki, aku dapat membuat laporan/pembukuan melalui smartphone yang kumiliki, aku dapat memfoto barang daganganku kemudian kuupload ke media sosial ataupun blog untuk menggaet calon pembeli. Selain itu, aku dapat pula chatting, kirim e-mail, berkomunikasi baik dengan supplier maupun customer tanpa adanya batasan waktu, tempat, dan dari mana mereka berasal/berada. Hal ini memungkinkan bisnisku akan dengan mudah mengglobal (I wish). Dengan digital, memungkinkan aku menyambungkan kamera CCTV ke dalam smartphoneku yang terkoneksi via internet sehingga memberikan kenyamanan bagiku walaupun aku tidak sedang ebrada di tempat usaha. Selain smartphone yang portable yang dapat selalu kubawa-bawa kemana-mana sehingga aku tetap dapat mengawasi/menjalankan pekerjaanku dimanapun, aku juga memakai laptop untuk segala urusan operasional bisnis. 

Life
Aku begitu bangga terlahir sebagai wanita. Aku merasa sempurna. Aku ingin orang memandangku bangga. Oleh karenanya, aku selalu berusaha membatasi anatar yang serius dan hanya sekdar main-main. Pergaulan dan pertemanan benar-benar aku pilih untuk menjaga reputasiku serta gangguan yang mungkin saja dapat menghampiriku. Aku berusaha menjaga diriku, luar dan dalam. Menjadi wanita yang terhormat. Aku belajar tidak mudah percaya akan omongan dalam media sosial yang kini marak menghayutkan perasaan seseorang dan berakhir pada kejadian buruk. 
Karena aku seorang wanita, aku mempunyai sisi feminim, aku juga sangat memperhatikan penampilan dan kecantikan. Tak jarang, aku berselancar di media sosial ataupun website di waktu senggangku untuk sekedar cuci mata ataupun membeli barang-barang wanita secara online, seperti baju, aksesoris, dan make up.

Love
Aku telah menikah 2 tahun lalu. Aku begitu bangga, karena aku dapat menjadi wanita yang sempurna dengan bertemu jodohku yang telah kukenal sejak awal kami masuk kuliah dan berpacarans elama 7 tahun. Perjalanan cinta kami terus teruji hingga kelegaan kami dapatkan, kami dapat menikah. Aku memiliki kesibukan dalam bekerja juga suamiku, namun kami mempunyai waktu 'Us Time' dimana saat sore hingga malam hari sepulang kita bekerja, kami selalu makan malam bersama, menonton televisi bersama, serta mengobrol bersama. Menikmati waktu kami berdua selagi kami belum mempunyai momongan (Hopefully coming soon).
Saat pagipun, pelukan mesra selalu kami lakukan. Hal itu, ibaratkan kami me-recharge energi dan semangat kami untuk memulai hari yang baru. Kami juga sempatkan sarapan bersama, selalu, setiap harinya. Fasilitas chatting dengan BBM atau YM selau kami manfaatkan di sela-sela kesibukan kami bekerja, hanya untuk mengingatkan makan siang, minum air putih, ataupun memberikan semangat dalam bekerja.

Spiritual
Kami berusaha takut akan Tuhan, memupuk iman kami dengan berusaha selalu ingat akan Tuhan, belajar mengucap syukur atas semua yang kami dapatkan dan kami lalui. Di malam hari, sebelum aku dan suamiku terlelap tidur, kami selalu menyempatkan untuk bertumpangan tangan, memejamkan mata bersama, dan berdoa bersama. 
Aku hanya seorang wanita dan manusia biasa, namun aku selalu berusaha mempunyai perilaku yang baik sejalan dengan yang disuruh Tuhan. Di hari minggu, aku dan suami menyempatkan ke Gereja sesuai iman kami untuk mengucap syukur atas perjalanan kami selama seminggu dan meminta bimbingan untuk hari-hari ke depannya.
Walaupun era digital terus merasuk, saat aku ke Gereja, aku berusaha untuk membawa Alkitab, ya! sebuah buku tebal. Tidak menggunakan Alkitab digital yang ada dalam ponselku.


Menjadi wanita seutuhnya dengan keharmonisan hidup memang sulit. Namun bagiku, tiada kata sulit! Aku mempunyai tekad yang kuat untuk menjadi wanita seutuhnya. Era digital tentunya membawa dampak baik serta buruk dalam kehidupanku. Aku harus dapat memilahnya. Menggunakan 'digital' untuk membantu aktivitasku namun jangan sampai 'digital' itu merusak hubunganku dengan suami, keluarga, sosial, maupun Tuhan karena 'digital' akan membuat kita kecanduan dan merusak hidup kita. Semoga aku terus bisa semangat! dan menjadi wanita di era digital.




Tulisan ini ditulis untuk diikutsertakan dalam kontes Fastron Blogging Challenge.




Photobucket

0 komentar: