Aku Punya Sepatu Baru, Ha Ha Ha Ha... !!!

Kamis, Mei 17, 2012

Aku punya sepatu baru, ha ha ha ha...!!! Aku menyanyikan kalimat itu berulang-ulang setelah aku bersama ibu keluar dari toko sepatu. Aku mendapatkan sepasang sepatu baru, yang merupakan pilihanku sendiri, kesukaanku tentunya. Sudah lama aku tidak berganti sepatu, ada 5 tahun lamanya. Pantas saja sepatuku itu berwarna hitam polos sesuai aturan sekolah SD ku waktu itu, tidak ada corak berwarna sama sekali bahkan talinya pun juga berwarna hitam. Juga ibu membelikannya sengaja lebih besar dari ukuran kakiku waktu itu bahkan cenderung kebesaran agak berlebihan, tidak apa bisa memakai kaos kaki yang agak tebal dan waktu menali sepatu agak kencang. Sepatu itu juga dijahit keliling terlebih dahulu sebelum kupakai. Alhasil sepatuku begitu tahan lama walau kakiku bertambah molor. Ibu juga benar-benar merawatnya dengan baik, setiap kali selepas kupakai ibu selalu menyikatnya dan menyimpannya rapi.

Di musim penghujan, ibu juga tidak kekurangan ide. Ibu yang selalu menjemputku sepulang sekolah, membawakanku sandal jepit unutk berganti dengan sepatu. Biar bisa dipakai lama, begitu yang diucapkan ibu berulang kali hingga aku hafal dan bosan mendengarnya.Tak terkecuali waktu berangkat sekolah di sata hujan, aku memakai sandal jepit dengan membawa tas ransel di punggungku serta menenteng tas kresek berisikan sepatu. Aku kerap protes dengan ibu, teman-temanku yang lain tidak sepertiku. Aku malu ibu, karena aku harus memakai sandal jepit dan baru mengganti dengan sepatu saat di dalam sekolah. Aku malu ibu, teman-temanku selalu mendapatkan hadiah di setiap kenaikan kelasnya dan sepatunya bermodel baru dan tidak hanya punya satu. Apa kata ibu? Tidak perlu melihat orang lain, yang terpenting kita tidak merugikan orang lain. Kemudian aku hanya tertunduk diam dan lesu dan membiarkan semuanya mengalir terjadi.

Kini setelah sepatu itu sudah begitu lusuh, kotor, dan sobek di sana-sini yang tak memungkinkan lagi untuk diperbaikanya dan rasanya ibu juga sudah putus asa dengan sepatu itu, akhirnya ibu membelikanku sepatu baru. Aku begitu semangat! Aku diajaknya ke pasar yang identik dengan harga miring daripada membeli di pusat perbelanjaan besar. Aku berkeliling dan menemukan sepatu seperti temanku. Ini ibu, aku sudah menemukan sepatu baruku. Yang ini, yang aku suka. Hitam polos juga. Ibu segera menghampirinya dan mencoba menawar sepatu itu dengan harga rendah. Sepatu itu memang bermerek sehingga harganya di luar nalar ibu, walaupun di sebuah pasar biasa. Aku tetap merengek ingin sekali memilikinya walau ibu sudah memberiku pengertian untuk beralih ke model lainnya yang lebih murah.

Aku berjanji akan merawat sendiri sepatu baruku dengan baik. Aku berjanji tidak akan mengganti sepatuku ini dengan yang lainnya dalam kurun waktu yang dekat. Aku berjanji benar-benar menjaganya. Bahkan aku rela memberikan seluruh uang dalam celengan ayamku untuk menambah uang ibu agar cukup untuk membelinya dan selama beberapa hari bahkan minggu ke depannya, aku rela tidak diberi uang saku hingga uang ibu cukup untuk memberiku uang saku lagi. Aku mengatakannya hal itu kepada ibu dengan berlinang air mata. Ibuku terharu, tersenyum, dan memelukku erat. Waktu itu aku duduk di kelas 2 SMP, dengan harga sepatu baru itu sebesar Rp. 200.000. Itu telah dipotong Rp. 25.000 oleh penjualnya karena ikut terharu mendengar penyataanku kepada ibu.

Hore.... akhirnya ibu membelikan sepatu baru itu. Hari itu aku begitu bahagia. Aku bersenandung sepanjang pulang ke rumah. Dan ibu memperingatkanku, agar aku menepati janjiku itu, yang terpenting adalah dapat merawatnya dengan baik karena kita juga harus bisa belajar menghargai barang yang kita punya.

Aku benar-benar memenuhi janjiku kepada ibu. Aku memperlakukan hal yang sama seperti yang ibu lakukan dulu dengan sepatuku yang lama. Aku tidak peduli dengan celotehan teman yang mengejekku begitu mendewakan sepatuku. Padahal sepatu yang aku beli itu hanyalah tiduran, bukanlah seperti yang temanku pakai, punyaku hanyalah mirip. Jelas saja, teman-temanku memakai sepatu yang jauh berkualitas, jauh lebih bagus, dan juga jauh lebih mahal. Karena mereka mudah sekali mendapatkannya, bahkan tanpa memintanya, orang tua mereka pasti memberinya dengan berlebihan sehingga pantas saja mereka begitu tidak menghargai sepatunya.

Tapi aku tidak peduli! Aku tidak mendewakannya, buktinya aku memakainya setiap hari, aku hanya menjaga, merawat, dan memenuhi janjiku kepada ibu. Aku memang bukan dari kalangan berada, orang tuaku juga tidak begitu saja dan dengan mudah memberikan sesuatu kepada anak-anaknya. Memang susah awalnya, aku tidak bisa menerima keadaanku ini, mungkin karena aku bersekolah di tempat yang berkualitas dan dominan dengan kalangan atas, menyebabkan aku terlihat begitu rendah.  Kini aku menjadi kebal dengan celotehan teman-teman, aku bisa menerima keadaanku dan membuatku bersemangat agar aku dapat dipandang oleh temanku bukan hanya dari kondisi ekonomi saja.

0 komentar: