Perekonomian Indonesia Tidak Hanya Saat Idul Fitri

Sabtu, September 17, 2011
Tidak diragukan lagi, Idul Fitri merupakan momen yang paling dinantikan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya yang memeluk agama Islam, namun juga merupakan kesempatan emas bagi semua masyarakat Indonesia. Dari sisi konsumen dalam hal ini karyawan, akan mendapatkan gajinya yang ke-13 (THR) pada bulan tersebut. Dari sisi pedagang dan pengusaha, rata-rata mereka dapat membukukan omsetnya hingga 3 kali lipat dibandingkan dengan bulan-bulan biasanya. Bagi pemilik modal juga mendapatkan hasil yang bagus dari investasi yang ditanamkan sebelumnya hingga menjelang Idul Fitri.

Semuanya itu, baik konsumen, pedangang, pengusaha, maupun memiliki efek bola salju yang saling berkesinambungan. Saya akan mencoba menelaahnya satu per satu:

1. karyawan
Tentunya Idul Fitri sangat membahagiakannya karena mendapat tambahan uang dan umumnya mereka gunakan untuk berbelanja kebutuhan Idul Fitri bahkan terkadang cenderung memamerkan hasil yang didapat dari kota dan dibawa ke kampungnya.

2. pengusaha
Masa panen, dimana omsetnya akan meningkat sampai 3 kali lipat dan tentunya secara keuntungan juga akan meningkat. Semua rata-rata memiliki kesempatan emas dalam Idul Fitri, utamanya baju, sepatu, tas, hingga makanan. Tak pelak, department store selalu dijubeli saat mendekati hari H. Aneka jajanan kue serta parcel dan supermarket juga tak ketinggalan untuk dipadati.

3. Pemilik modal (investor)
Mereka juga akan mendapatkan keuntungan (gain) dari portfolionya karena kenaikan harga saham yang pesat saat Idul Fitri, seperti saham-saham pada department store.


Semuanya akan memperoleh keuntungan dan memegang uang, sehingga dengan demikian Idul Fitri akan mendatangkan rejeki bagi semua pihak yang kemudian tentunya juga akan berdampak pada bergeraknya roda perekonomian Indonesia.


Akan tetapi, stau hal yang perlu dicermati, janganlah terlalu terlena akan momen Idul Fitri. Semua uang dan keuntungan yang diperoleh sebaiknya jangan murni untuk konsumsi semata melainkan alangkah lebih baik jika adanya tabungan (saving) dan perluasan bidang usaha (ekspansi) yang tentunya juga akan menggerakan perekonomian Indonesia tidak hanya saat Idul Fitri saja namun setelah itu kembali kempes. Dan itu bukanlah yang kita harapkan.

Bagi karyawan, memang sah-sah saja untuk berbahagia sejenak menerima THR dan membelanjakannya setahun sekali. Banyak mereka berpikir, momen setahuns ekali tidak boleh terlewatkan sheingga terjadi berbelanja yang terlalu berlebihan. Namun ada sebaiknya jangan terlalu dihabiskan semuanya untuk konsumsi, sebagian ditabung untuk keperluan mendatang. Bahkan setiap tahun adanya kenaikan inflasi membuat mata uang kita semakin tidak ada artinya. Bayangkan saja, dahulu kita sudah kenyang dengan membeli sepiring makanan seharga Rp. 5.000. Jaman sekarang, harga makanan itu telah melambung tinggi dikarenakan inflasi setiap tahunnya.

Bagi pengusaha, hasil dari keuntungan dan uang yang didapatnya, dapat digunakan untuk terus mengembangkan usahanya bahkan ekspansi sehingga akan mencetak lapangan pekerjaan yang semakin banyak, yang kemudian berdampak pada pemerataan ekonomi masyarakat Indonesia.

Bagi pemilik modal (investor), keuntungan dari lonjakan harga saham yang didapatnya jangan begitu saja ditarik dan dinikmati untuk konsumsi semata yang akan habis seketika, ada sebaiknya dapat diputar dengan mengalokasikan dananya ke saham-saham Indonesia lainnya sehingga bursa efek kita akan selalu bergairah.

Pada intinya, saya sampai pada suatu kesimpulan, yaitu sikap membatasi diri sangat diperlukan serta mengalokasikan uang yang didapat sebaik mungkin dan pada hal yang benar. Dengan demikian, akan memberikan efek yang enak pada diri sendiri dan juga mata rantai ini dapat terus berputar dengan sehat serta perekonomian Indonesia dapat terus maju.



Photobucket

0 komentar: