Berani Memulai Sekarang, Bencana Dapat Diminimalisir

Sabtu, Juli 31, 2010

Tema : Membangun Kota yang Tangguh terhadap Bencana

Sub Tema : Upaya Pengurangan Resiko Atau Dampak Negatif Bencana Di Perkotaan

Judul : Berani Memulai Sekarang, Bencana Dapat Diminimalisir

Gemerlapnya perkotaan membuat masyarakat perkotaan tidak lagi peduli dan mengutamakan lingkungan sekitarnya. Pembangunan gedung bertingkat yang semakin gencar dan juga efek modernitas, perkotaan menjadi semakin sempit dan tidak mengindahkan lagi lingkungan sekitarnya, yang kemudian akan mengakibatkan bencana dimana bencana itu yang juga disebabkan pula semakin panasnya bumi karena efek rumah kaca sehingga muncullah istilah pemanasan global atau global warming, akan merugikan mereka sendiri.


Global Warming tersebut telah benar-benar menjadi peringatan keras bagi makhluk bumi (global warning), yang mengakibatkan perubahan cuaca yang tidak menentu dan lagi-lagi timbullah bencana. Beragam bencana telah terjadi dan dirasakan sakit dan perih di hati, seperti banjir, gempa, cuaca kemarau dan hujan yang tidak karuan, tanah longsor, dan lain-lain.


Berdasarkan kebijakan dari Kementerian Pendidikan Nasional dimana tercetus melalui Surat Edaran Menteri Pendidikan Nasional No. 70a/SE/MPN/2010 tentang Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana di Sekolah, akan diselenggarakan penanggulangan bencana yang terjadi di tingkat sekolah dari tingkat SD hingga SMA yang dimasukkan ke dalam kurikulum pelajaran, yang meliputi pengetahuan mengenai bencana dan keterampilan apa saja yang tepat dilakukan saat bencana terjadi. Suatu keputusan yang tepat, dimana yang sebelumnya siswa telah mendapatkan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial, ditambah dengan pelajaran Penanggulangan Bencana, maka diharapkan siswa tidak hanya paham akan kondisi alam, bumi, social atau sesame, melainkan juga paham akan bagaimana dampak negatif yang dapat terjadi dari itu semua sehingga siswa harus mampu berupaya jangan sampai bencana terjadi, bagaimana upaya-upaya pengurangan risiko terjadinya bencana harus benar-benar dipahami dan terutama dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari karena upaya tersebut tidak hanya berlaku sehari saja namun harus kontinu dan juga oleh semua lapisan masyarakat, baik dari siswa hingga orang tua. Kemudian diharapkan diadakan simulasi atau praktek langsung sehingga siswa sejak dini dapat terlatih dan sigap dalam menghaapi bencana. Pemahaman dan pelatihan dini terhadap siswa tersebut akan membentuk suatu kepribadian yang disiplin dan peka terhadap lingkungan dan akan menjadi tonggak perubahan di masyarakat.

Dapat pula dalam pelajaran keterampilan, siswa diajak membuat suatu karya dengan bahan daur ulang, dengan demikian siswa akan menyadari bahwa bahan yang telah usang dan tidak terpakai dapat dijadikan suatu mahakarya yang indah.

Selain pengurangan risiko bencana yang dimasukkan di kurikulum sekolah, tiap-tiap masyarakat khususnya perkotaan harus sadar diri dan pedulu akan sesama dan juga lingkungan. Berbagai cara pengurangan risiko terjadinya bencana dapat dimulai dari diri kita pribadi sendri dengan cara yang sederhana dan cerdas, seperti melakukan penghematan lampu dengan mematikan lampu yang tidak terpakai, membeli sesuatu produk dalam kemasan besar atau jumbo sekaligus sehingga dapat mengurangi timbunan sampah plastik yang tidak dapat diurai, menjadikan timbunan sampah yang dapat diurai menjadi kompos yang dapat menyuburkan tanaman, tidak menghalangi penghijauan dengan tetap menyediakan tempat bagi pepohonan, menghemat BBM dengan memperhitungkan jarak tujuan sehingga dapat ditempuh dengan sekali jalan dan apabila dekat, gunakan kaki selain menyehatkan juga mengurangi efek polusi yang dapat menimbulkan risiko terjadinya bencana. Dan bahkan go paperless yang merupakan kampanye perubahan dari birokrasi dan mekanisme yang menggunakan kertas menjadi elektronik, juga dapat mengurangi dampak negatif risiko bencana.

Di perumahan perkotaan juga dapat diadakan lomba kreativitas yang menghasilkan karya dari bahan daur ulang sehingga masyarakat perkotaan akan terbiasa berpikir untuk mendaur ulang barang bekas sehingga tidak langsung saja dibuang begitu saja dan menumpuk sampah.


Pemahaman akan manajemen risiko bencana ini perlu mendapatkan dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak sehingga dapat terlaksana dengan baik dan meluas utamanya di perkotaan yang mayoritas tidak peka terhadap lingkungannya. Pemerintah, lemabaga sosial, sekolah, perkantoran, orang tua, dan anak-anak, diharapkan dapat melakukan upaya pengurangan risiko bencana di perkotaan yang dimulai dari suatu langkah kecil dari sekarang untuk suatu tujuan besar yang bermanfaat bagi semuanya.

0 komentar: