Pembatasan Gaji CEO Wall Street

Kamis, Februari 05, 2009

Amerika telah memiliki Presiden barunya, seorang dari kulit hitam, yang diharapkan dapat membawa perubahan menuju kebaikan bersama. Yup, benar, Barrack Hussein Obama, dimana merupakan Presiden Amerikan ke44, presiden pertama Amerikan berkulit hitam.

Semenjak benar2 dilantik tanggal 20 Januari lalu, Obama telah melakukan beberapa kebijakan di tengah-tengah krisis ini. Termasuk pula, memperketat pengawasan atas perusahaan penerima bailout, utamanya di sektor finansial. Gaji para eksekutif puncak (CEO) juga akan dibatasi dengan maksimal USD 500 ribu (setara dengan Rp. 5,5 M). Mengapa Obama mengambil kebijakan pembatasan gaji CEO finansial tersebut?? Hal itu ditengarai karena kemarahan masyarakat yang tidak setuju setelah keluarnya pengumuman pembagian bonus di wall street senilai USD 18,4 M (setara Rp. 202,4 T). Wow...bonus aja segede itu.... Obama beserta dengan konggres mempertimbangkan akan pembatasan gaji para eksekutif sebagai salah satu syarat bagi perusahaan penerima bailout senilai USD 700 M. Bank dan perusahaan finansial yang menerima bailout namun tergolong sebgaai perusahaat sehat, masih diberi kelonggaran. Namun perusahaan tersebut harus mengumumkan rencana kompensasi dan menyampaikan rencana gaji eksekutif pada para pemegang sahamnya.

Sebagai gambaran........
1.
Vikram Pandit, seorang CEO citigroup, berpenghasilan tahunannya mencapai USD 3,1 juta (setara Rp 3,4 M)
2.
Kenneth D. Lewis, seorang CEO Bank of America, berpenghasilan lebih dari USD 20 juta (setara Rp. 220 M) termasuk USD 5,75 juta (sekitar 63,25 M) gaji dan bonus.
3.
Richard Wagoner, seorang CEO GM, gajinya USD 1,6 juta (setara Rp. 17,6 M) degan total penghasilan USD 14,4 juta (sekitar Rp. 158,4 M), termasuk saham dan tunjangan non tunai.

Lalu bagaimanakah dengan perusahaan yang tidak menerima bailout dari pemerintah US? perusahaan-perusahaan tersebut juga akan dikenai persyaratan yang ketat mengenai kompensasi. Sebagai contoh, CEO tidak boleh menjual sahamnya selama beberapa tahun. Perusahaan juga diwajibkan menyerahkan rencana gaji CEO untuk mendapatkan persetujuan dari pemegang saham yang tidak terikat.

"Warga Amerika mengerti bahwa kita semua harus segera keluar dari krisis. Tapi, mereka tak akan suka jika ada orang yang membuat krisis makin parah saat kita sedang berusaha mengatasinya"
(Kata Obama seperti di tulis di JawaPos 5 Februari 2009)


Memang selama ini para manajemen puncak di perusahaan penerima bailout atau Troubled Asset Relief Program (TARP) telah menerima beberpaa persyaratan namun belum diatur mengenai ketentuan bonus atau devidennya. Di mana pengumuman pemerintah mengenai kompensasi tersebut akan menambha persyaratan bagaimana perusahaan penerima bailout senilai USD 350 M menggunkan dana yang telah diberikan tersebut.

Namun dari adanya kebijakan tersebut, pakaar kompensasi swasta bependapat bahwa campur tangan pemerintah dalam masalah internal perusahaan akan berdampak pada berkurangnya minat dan antusias perusahaan dalam mengikuti program penyelamatan, selain itu juga akan sekaligus dapat memperlambat pemulihan di sektor finansial.


Sumber: Jawa Pos, 5 Februari 2009

0 komentar: