Kekuatan Merek

Sabtu, Februari 21, 2009
Merek sangat berperanan penting dalam suatu kelanggengan produk. Merek harus diorganisasi dengan baik dna benar2 diperhatikan. Di era kompetisi yang kian ketat ini, perusahaan dihadapkan pada suatu realita akan adanya tren, pesaing2 lama yang handal, juga pesaing2 baru. Menurut Darmadi Durianto yang merupakan marketing innovator dan satf pengajar pasca sarjana institute bisnis Indonesia (IBII), di area pemasaran, merek2 yang hanya melihat ancaman di sekitarnya saja dengan mengabaikan market nicher atawa new comers, serta tidak pernah berpikir akan kompetisi dalam jangka panjang, hal itulah yang disebut sebagai brand myopia atawa rabun jauh merek. Oh…o….ternyata dalm dunia permerekan dan marketing, ada istilah myopia juga ya, unik si istilahnya, tapi emang bener lo, mengena banget tuh istilahnya.

Darmadi Durianto memberikan contoh di US, Ford Motor Co membiarkan perusahaan GM untuk masuk en mencaplok pansa pasarnya. Selain itu ada pula seperti Goodyear, Firestone, dan BF goodrich. Saat itu, Goodyear menduduki peringkat pertama, disusul oleh Firestone en BF Goodrich. Secara mengejutkan, Sears yang merupakan jaringan khusus ban-aki-aksesoris kendaraan dan Michelin yang merupakan pabrik ban from France, melakukan kontrak untuk membuat ban radial dan hasilnya?? Dapat ditebak, kedua perusahaan tersebut menjadi kuat dan mampu mengusik pasar ban yang dirajai Goodyear, Firestone, dan BF Goodrich. Ban radial menjadi booming.

Di Indonesia Darmadi Durianto juga mengasih contoh, Merpati Nusantara Airlines dan Garuda Airlines menguasai pangsa pasar airlines. Kemudian sampailah Lion Air yang menjadi pelopor low cost carrier. Selain itu, dalam dunia permotoran, hebatnya Yamaha yang mampu mengalahkan Honda sebagai raja di tahun 2007 dengan andalannya Yamaha Mio.

Dalam dunia bisnis, marketing memegang peranan penting dan merek juga ikut andil di dalamnya. Kita harus selalu waspada, dan jangan terlalu terlena dengan kemenangan merebut pangsa pasar, seperti pepatah : semakin tinggi pohon itu berdiri, maka semakin kuat terpaan anginnya (puitis banget ni....!! :D)

Nah, Darmadi Durianto memaparkan tentang hal2 yang terkait dengan brand myopia ini:

1. Market nicher atau pemain ceruk sering kita anggap enteng dan sebelah mata. Kita biasanya selalu memperhatikan pemain besar yang selama ini jadi pesaing utama kita, padahal market nicher amatkah bahaya dan menjadi ancaman bagi kita.

2. Kita tidak pernah sadar bahwa suppliers dapat saja berbalik arah menjadi pesaing kita (forward integration) atau juga berpindah ke perusahaan lain. Sehingga konsep win-win relationship berubah menjadi win-lose.

3. New comers atawa pendatang baru sering kita remehkan, karena kita mengganggap masi kecil, ow seperti baby gitu dan pasti tidak mempunyai kekuatan apa-apa dalam pasar. Sebagai contoh, banyak perusahaan elektronik Jepang tidak menganggap kehadiran perusahaan elektronik dari China karena dianggap berasal dari negara low technology country. Jepang hanya menganggap Korea adalah pesaingnya. Dan lihatlah hasilnya, China dapat mengusik kenyamanan Jepang dalam pasar elektronik.

Pakailah spion kiri dan kanan mobil anda untuk melihat siapa di belakang anda, kenali, dan hadang mereka agar tidak mendahului anda, entah itu di tikungan atau di jalan lurus sekalipun. Lakukanlah tanpa lelah
(Darmadi Durianto)


Kutipan Darmadi Durianto diambil dari majalah Marketing No. 02/IX/Februari 2009

1 komentar:

Tomi Utomo at: Sabtu, Februari 21, 2009 2:45:00 PM mengatakan...

Info yg menarik..

Salam kenal. Ditunggu info yg lainnya... :)