Viewers

The Neuroscience of Leadership

Kamis, Februari 05, 2009
Breakthroughs in brain research explain how to make organizational transformation succeed
By David Rock and Jeffrey Schwartz

The Neuroscience of Leadership


Mentrasformasi suatu organisasi sangatlah bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Bayangkan saja, dari hasil penelitian, dari 9 orang yang mengalami bypass jantung koroner, hanya 1 diantara 9 orang yang benar-benar mau berubah, mengubah kebiasaan buruknya dan hidup dengan sehat.


Biasanya suatu bisnis dihadapkan akan permasalahn bahwa kesuksesan tidaklah mungkin dapat dicapai tanpa adanya perubahan kebiasaan hariannya dari orang-orang yang berperan serta dalam menjalankan bisnis tersebut. Namun dalam merubah suatu kebiasaan atau perilaku sangatlah sulit.


Change is Pain
Perubahan atau transformasi dalam organisasi memang sangat sulit dilakukan karena berhubungan dengan ketidaknyamanan psikologi masing-masing anggota organisasi.

Behaviorism doesn’t Work
Usaha dalam melakukan transformasi yang berdasarkan insentif dan ancaman (the carrot and the stick) tidak akan dapat sukses dan kontinu dalam jangka panjang.

Humanism is Overrated
Dalam pelaksanaannya, pendekatan empati secara konvensional dalam koneksi dan persuasi tidaklah cukup dalam mengatur anggota organisasi.

Focus is Power
Perhatian dan focus akan dapat menciptakan perubahan physical dalam brain masing-masing anggota organisasi.

Expectation Shapes Reality
Konsep dan imajinasi yang ada dalam pikiran akan berdampak pada pencapaian secara real.

Attention Density Shapes Identity
Pemahaman transformasi yang dilakukan secara kontinu, berulang-ulang, mempunyai tujuan dan arah yang jelas, dan selalu memberikan perhatian serta focus dapat menciptakan perubahan personal dalam jangka panjang.


Kemudian, dapatkah pemimpin dapat merubah perilakunya sendiri maupun perilaku bawahannya dengan efektif?

Dimulai dari melepaskan perilaku-perilaku buruk di masa lalu dan focus pada identifikasi serta penciptaan perilaku baru yang baik. Apabila hal ini dilakukan secara kontinu, maka akan membentuk posisi yang dominan dalam otak kita.

Dalam suatu tingkatan organisasi, pemimpin ingin merubah bawahannya di mana jumlahnya sangat banyak, puluhan, ratusan, bahkan ribuan. Pemimpin harus mampu membuat transformasi organisasi dengan cara merubah cara piker bawahnnya tersebut. Pendekatan yang lazin digunakan adalah pertama mengidentifikasi kebiasaan perilaku saat ini, mencara perilaku mana saja yang tidak sesuai dan perlu dilakukan perubahan. Kemudian, mengidentifikasi sumber permasalahan dan bagaimana cara memecahkan permasalahan tersebut.

Berdasarkan apa yang kita tau mengenai otak (brain), suatu alternative yang baik adalah memulai dengan menggambarkan kesuksesan transformasi organisasi kita, tanpa perlu mengidentifikasi perubahan masing-masing individu yang perlu dibuat secara spesifik. Kemudian sebagai seorang leader, harus menggambarkan dalam pikirannya perilaku-perilaku baru dan prosesnya dalam mengembangkan pemetaan pikiran. Berikutnya, pemimpin akan selalu memfokuskan timnya untuk selalu memberi perhatian atas pencapain tujuan yang telah di-create nya dengan memfasilitasi diskusi-diskusi dan aktivitas-aktivitas yang melibatkan karakteristik entrepreneurial. Setelah itu, pemimpin akan secara berkala melakukan “gentle reminders” sehingga pemetaan mengenai entrepreneurial akan selalu menjadi dominant dalma aliran transformasi, ide-ide, dan energy. Pemimpin juga perlu dapat menjadi pemecah masalah dan pemberi solusi di mana timnya mengalami kemacetan dalma melakukan transformasi dan selalu memberikan arahan. Kekuatan dalam melakukan trasformasi organisasi adalah terletak pada
FOCUS dan ATTENTION.


0 komentar: