Viewers

Marketing Ala Obama

Senin, Desember 15, 2008

Tak ada lagi yang tidak mengenal Presiden baru Us, Barrack Obama. Namanya naik daun melejit sejak dilantiknya menjadi Presiden US, 4 Nopember 2008 lalu. Apabila kita ibaratkan produk, maka Obama sebagai produk yang dilaunching dengan saat yang sangat tepat, paaaassss banget deh..

Obama selalu membawa warna yang berbeda, dengan kampanye yang bertema kedamaian, diplomasi, dan kerjasama. Kampanyenya ”CHANGE” dengan slogan ”Yes, we can” juga telah mencengangkan warga US yang tengah mendambahkan seorang pemimpin negara yang mampu mengatasi krisis.

Awalnya, dominasi Hillary Clinton (Partai Demokrat) terasa sangat sulit ditaklukkan oleh Obama. Apa yang telah memberi kekuatan dalma perjuangan Obama adalah kekuatan personal yang cemerlang dan viral marketing pada tiap level.

Kampanye-kampanye yang dilakukan Obama sebenarnya menggunakan strategi yang sangat sederhana, nmaun eksekusi dan diaplikasikan dengan matang. Hillary Clinton saat itu memulai dengan dana yang lebih banyak, support yang lebih banyak, nama/brand yang sudah mantap, telah terbiasa dengan competitor2 besar, sangat berpengaruh di arena permainan, dan infrastrukturnya telah kokoh di sleuruh negeri. Sedangkan sosok Obama merupakan orang baru yang berada di tengah2 arena permainan yang ketat, dengan memiliki sumber daya yang terbatas dan brand yang masih baru.

Obama tidak mengalahkan Hillary Clinton secara head on, namun mengarakhan kampanye2 ke negara2 bagian yang lebih kecil. Obama mencari daerah2 terkecil yang dilewatkan oleh competitor, sehingga mencukupi sumber dayanya yang terbatas. Hal ini mirip dengan tindakan seseorang yang menargetkan klien lama yang sudah terpercaya namu belum mendapatkan service dengan level yang sama seperti halnya klien2 baru yang aktif diburu competitor lain.

Obama tidak berusaha untuk berkompetisi dengan cara menjual produk HOT di pasaran, menyebabkan kompetisi dan benturan secara langsung dengan para pemain besar di pasar. Sebagai gantinya, Obama memilih produk yang tidak bayak dijual competitor dan menjualnya ke pasar2 yang lebih kecil dan mengambil niche.

Selain itu, Obama sangat mengandalkan kekuatan WOM (word of mouth) dan pintar memanfaatkan momentum untuk meraih simpati dengan setiap dolar yang dikeluarkan, mencoba mendapatkan dukungan di daerah2 yang dipahaminya. Obama dengan cepat dapat membangun pondasi pendukung2 setia yang dengan aktif dan otomatis menjual pesan2 ke lebih banyak orang lagi. Penyebaran message secara terus menerus adalah kuncinya. Marjin kemenangannya datang dari usaha awalnya membangun pendukung2 yang terus bertambah dengan efek snowball di seluruh negeri. Dan inilah hasil dari viral marketing yang sukses.

Pelajaran dari Obama yang daat dipetik yaitu janganlah melewatkan klien2 yang lebih kecil hanya demi mengejar ”hadiah besar” karena klien2 kecil itu justru diperlukan untuk membangun pondasi agar lebih stabil. Nah Obama menggunakan pondasi yang telah stabil ini untuk menyebarkan dan mempromosikan message melalui internet dengan cara2 yang smart, menggunakan jalur situs2 yang bertema social media seperti Facebook, MySpace, Twitter, dan Plurk, blog, milis, serta forum2 diskusi.Obama dengan menggunakan internet juga dimanfaatkan untuk menggalang dana, mengelolah pendukung2nya, dan menyampaikan message. Terbukti dana sebesar Rp. 6.9 triliun dikumpulkan dari sponsor lewat internet, di mana jumlah tersebut nyaris 3x lipat dari dana yang dikumpulin tim McCain. Selain melalui social media, Obama juga menggunakan situs sharing video (YouTube) dan terlibat dalam advertising di industri video games.

Special untuk video games, tim sukses Obama berhasil menaruh wajah dan pesan2nya di berbagai games yang digemari kalangan pemilih belia (18-30 tahun) sehingga mengakibatkan Obama berhasil menarik 54.5% kalangan muda untuk datang ke TPS, dan ini menjadi rekor jumlah pemilih muda terbesar sepanjang sejarah US.

Dengan menggunakan advertising ala WOM dan teknik2 marketing, Obama mampu mendapatkan efek ”buzz” yang sangat signifikan.

Walaupun pendonor besar penting untuk dirangkul namun para kontributor yang lebih kecil pun harus turut diperhitungkan demi menciptakan relationship yang berksinambungan. Hal ini tidak dapat dilihat sebagai momen sebagai momen spesial pada satu waktu saja tapi harus dilihat lebih sebagai investasi.

Sumber: Marketing 12/VIII/Desember 2008

0 komentar: