sampoerna

Sabtu, April 26, 2008
LIEM SEENG TEE
AGA SAMPOERNA
PUTERA SAMPOERNA
MICHAEL SAMPOERNA
- SAMPOERNA -

LIEM SEENG TEE
Sampoerna didirikan tahun 1913 di Surabaya oleh Liem Seeng Tee dan istrinya Siem Tjiang Nio, yang merupakan imigran Tionghoa Desa Anhui, Fujian, Cina. Pertama kali dinamakan Handel Maastchpaij Liem Seeng kemudian berubah menjadi NV Handel Maastchapij Sampoerna dan pada akhirnya menjadi PT. Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk atau HM Sampoerna.

Liem Seeng Tee lahir tahun 1893 dan telah berada di Indonesia sejak usianya 5 tahun bersama ayahnya. Tak lama kemudian, ayahnya meninggal, dan akhirnya Liem Seeng Tee menjadi anak angkat sebuah keluarga di Bojonegoro. Di sinilah, Liem Seeng Tee belajar meracik tembakau dan hasil racikannya dijual secara asongan di kereta api yang datang dari Surabaya. Ketika Liem Seeng Tee dewasa, pergi ke Surabaya untuk mencari pekerjaan tetap dan bertemu dengan Siem Tjang Nio, istrinya. Liem Seeng Tee mempunyai keahlian dalam meracik tembakau dna kemudian dijualnya. Ternyata, racikan tembakau Liem Seeng Tee disukai masyarakat dan bahkan pejabat.

Pada tahun 1932, Liem Seeng Tee membeli kompleks gedung panti asuhan dan bioskop milik Belanda yang kemudian dijadikan pabrik rokok dengan merek Dji Sam Soe, berasal dari bahasa Hokkian yang berarti 234. (2+3+4=9). Merek Dji Sam Soe diambil dari jumlah pekerjanya saat itu sebanyak 234 orang. Liem Seeng Tee ini mempercayai bahwa angka 9 merupakan angka keberuntungan dan kesempurnaan. Hal ini diwariskan turun-temurun ke genrasi-generasi selanjutnya.

Dalam suatu usaha, pasti pernah mengalami masa-masa sulit. Itu juga terjadi pada usaha Liem Seeng Tee, di mana pabriknya pernah mengalami kebakaran namun Liem Seeng Tee tidak pernah putus asa, terbukti usahanya semakin berkibar dan merajai pangsa pasar rokok kretek nasional. Tahun 1956, Liem meninggal dalam usia 63 tahun (6+3=9) dan kemudian usahanya dilanjutkan oleh anaknya nomor 2, Aga Sampoerna.

AGA SAMPOERNA
Di kepemimpinan Aga Sampoerna, usaha semakin maju dan melebarkan pabriknya ke Rungkut Industri dengan manajemennya yang lebih modern. Dan nama perusahaan juga berubah menjadi PT. Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk atau HM Sampoerna. Selain itu, Aga Sampoerna melihat kepopuleran rokok cengkeh di Indonesia, sehingga memutuskan hanya produksi rokok kretek saja.



Aga Sampoerna meluncurkan Sampoerna A (sekarang: Sampoerna Hijau) pada tahun 1968. Walaupun penjualannya tak sesukses Dji Sam Soe, Sampoerna A mampu memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap total pendapatan Sampoerna. Pada tahun 1968 pula, muncul merek Panamas Kuning. Aga Sampoerna meninggal tahun 1995.

PUTERA SAMPOERNA
Kemudian dari kepemimpinan Aga Sampoerna, dilanjutkan oleh anaknya nomor 2, Putera Sampoerna. Adapun falsafah yang dianut dalam diri Putera Sampoerna adalah “Pahamilah lingkungan anda, apa yang bisa anda lakukan dengannya, dan bila tidak ada yang bisa anda lakukan. Ubahlah!”. Dengan falsafah tersebut, Putera Sampoerna membawa PT. HM Sampoerna melangkah lebih jauh dengan terobosan-terobosan yang dilakukannya, seperti perkenalan rokok bernikotin rendah, A Mild pada 18 Desember 1989 sebagai rokok rendah nikotin dan “taste to the future”. Dan A Mild merupakan rokok pertama dengan penampilannya yang modern dan batang rokoknya yang slim. Putera Sampoerna sangat yakin dengan peluncuran mereknya, A Mild, dan Putera Sampoerna tak ragu membubuhkan nama dan tanda tangannya pada kemasan A Mild.

A Mild (rokok sigaret kretek mesin low tar low nicotine) ini menghadapi tantangan yang berat karena masyarakat memposisikannya sebagai kategori rokok putih sehingga dianggap sebagai rokok yang tidak berasa apapun. Namun Putera Sampoerna tetap optimis dan tahun 1994 A Mild mengganti temanya dari Taste of the Future menjadi How Low Can You Go?. Cara ini ternyata efektif sehingga penjualan A Mild menjadi bergairah dan meledak. Hal ini membuat pesaing Sampoerna meniru, yaitu PT. Djarum (LA Lights dan Djarum Super Mezzo), PT. Bentoel (Star Mild, Bentoel Mild, dan X Mild), PT. Gudang Garam (Gudang Garam Surya Signature), dan PT. Norojono Tobacco Indonesia (Clas Mild). Dan akhirnya, Sampoerna juga mengeluarkan merek barunya, U Mild. Selain itu, ada beberapa merk rokok lainnya yang diproduksi HMS di masa kepemimpinan Putera Sampoerna, diantaranya adalah merk A International.

Pada kepemimpinan Putera Sampoerna, Sampoerna juga melakukan langkah-langkah strategis seperti membenahi sistem pembelian tembakau ke petani, membangun sistem distribusi langsung, membangun kapabilitas dan kompetensi inti di bidang pembuatan sigaret, membangun fasilitas manufaktur berkelas dunia di Rungkut dan Pandaan, memperluas bisnisnya ke dalam bidang supermarket dengan mengakuisi Alfa dan mendirikan Bank Sampoerna pada tahun 1980-an, walaupun bisnis perbankan ini akhirnya gagal, serta melakukan ekspansi bisnis ke pasar luar negeri yang prospek. HMS juga berhasil menjadi perusahaan publik tahun 1990 dengan menjual 27 juta (2+7=9) lembar saham dengan harga Rp. 12.600 (1+2+6=9). Sejak saat itulah, saham HMS selalu menduduki lapisan saham papan atas, yang dikenal dengan sebutan blue chip. Dan tahun 2000, Putera mengalihkan kepemimpinan perusahaan kepada anaknya, Michael.

MICHAEL SAMPOERNA
Kemudian kepemimpinan dilanjutkan oleh anaknya nomor 4, Michael Sampoerna pada tahun 2001. Sedangkan Putera Sampoerna tetap aktif di perusahaan sebagai Presiden Komisaris HMS.

Dengan demikian, HMS telah dipimpin oleh 4 generasi dan tetap mempertahankan budayanya yang kental serta ciri khas sebagai penghasil rokok kretek. Dan pada tahun 2005, PT. Hanjaya Mandala Sampoerna yang merupakan perusahaan rokok terbesar ketiga di Indonesia diakuisisi oleh Philip Morris, perusahaan rokok terbesar di dunia dari AS sehingga mengakhiri tradisi keluarga yang telah 90 tahun lebih.

source: berbagai sumber

0 komentar: